Ekosistem startup dan korporasi di Indonesia kembali diwarnai berbagai perkembangan signifikan. Mulai dari langkah strategis Telkom memisahkan aset infrastruktur jaringannya, minat investor Jepang terhadap penyedia pembayaran B2B, hingga evaluasi mendalam terhadap posisi inovasi Indonesia di kancah global, semua menunjukkan dinamika pasar yang terus bergerak.
Pergerakan Korporasi dan Pendanaan Startup
Telkom Bentuk InfraNexia, Fokus pada Bisnis Inti
PT Telkom Indonesia telah mendapatkan persetujuan pemegang saham independen untuk memisahkan lebih dari 90% aset infrastruktur jaringannya ke InfraNexia. Langkah ini, yang mengkonsolidasikan sekitar 112.000 km serat optik dan 26.000 km kabel laut domestik dengan nilai transaksi sekitar Rp85,7 triliun (US$4,8 miliar), diformalkan melalui akta pemisahan pada 30 September 2026. Tujuannya adalah untuk mempertajam fokus Telkom sebagai perusahaan induk strategis, sementara InfraNexia akan beroperasi sebagai platform wholesale netral operator untuk konektivitas, FTTx, dan infrastruktur siap AI. RUPSLB juga menyetujui jajaran direksi baru InfraNexia yang dipimpin oleh Komisaris Angga Raka Prabowo dan CEO Nanang Hendarno.
JULO Raih Pendanaan Baru
JULO, penyedia pinjaman digital yang berbasis di Jakarta, berhasil mengamankan pendanaan baru. Putaran ini melibatkan partisipasi dari unit investasi Saratoga Investama Sedaya serta investor-investor sebelumnya seperti Saison Capital, ACV Capital, Quona Capital, dan Skystar Capital. Perusahaan fintech berlisensi OJK ini telah melampaui US$1,7 miliar dalam penyaluran pinjaman seumur hidup hingga akhir 2025, dan terus mengembangkan platform kredit digital bergulir serta kartu kredit virtualnya. Sebelumnya, JULO telah mengumpulkan pendanaan Seri B senilai US$80 juta dari Credit Saison pada tahun 2022.
Digital Realty Bersama Tunjuk Raymond Yan
Digital Realty Bersama (DRB), perusahaan patungan pusat data antara Saratoga Group dan Digital Realty asal AS, menunjuk Raymond Yan sebagai pemimpin operasional di Indonesia. Yan, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden direktur CENT dan berhasil memperluas jangkauan situs dari sekitar 4.600 menjadi lebih dari 11.000 serta menggandakan jaringan serat optik menjadi 5.000 km, akan berfokus pada optimalisasi infrastruktur berdensitas tinggi dan perluasan ekosistem interkoneksi. Penunjukan ini bertujuan untuk memenuhi permintaan yang meningkat akan beban kerja AI dan komputasi berkinerja tinggi.
SBI Holdings Lirik Durianpay
Unit dari SBI Holdings yang berbasis di Tokyo sedang dalam tahap diskusi untuk berinvestasi di Durianpay, penyedia infrastruktur pembayaran B2B asal Indonesia. Minat ini mencerminkan peningkatan perhatian investor Jepang terhadap sektor fintech Indonesia. Durianpay, yang memproses total volume pembayaran lebih dari US$5,5 miliar pada tahun 2025 dan mencatat tahun pertama profitabilitas penuh, berencana menggunakan modal segar untuk ekspansi di luar Indonesia serta mengembangkan produk aset digital dan pergerakan uang lintas batas, termasuk layanan berbasis stablecoin. Hingga saat ini, startup tersebut telah mengumpulkan sekitar US$8,07 juta, dengan putaran terakhir senilai US$6,22 juta dipimpin oleh ACV Capital pada Mei 2025.
Saham GoTo Anjlok Pasca Penghapusan Batas Harga
Saham GoTo mengalami penurunan sekitar 30% menjadi 30 rupiah pada awal perdagangan setelah Bursa Efek Indonesia menghapus harga perdagangan minimum 50 rupiah. Kebijakan ini, yang memungkinkan saham diperdagangkan hingga 1 rupiah, melepaskan tekanan jual yang tertahan setelah saham GoTo berada di batas bawah selama sekitar empat bulan. Reformasi ini bertujuan untuk meningkatkan penemuan harga dan likuiditas, menyusul penghapusan GoTo dari indeks MSCI karena likuiditas rendah, meskipun perusahaan melaporkan keuntungan kuartalan kedua berturut-turut pada Q2 2026.
Pajak E-commerce Mulai Diberlakukan
Direktorat Jenderal Pajak telah mulai memberlakukan pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 atas penjual domestik melalui empat marketplace yang ditunjuk: Shopee, Blibli, Tokopedia, dan Lazada, efektif mulai 1 Oktober 2026. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 37/2025, platform-platform ini akan memotong 0,5% dari nilai transaksi bruto (tidak termasuk PPN dan Pajak Penjualan Barang Mewah). Penjual individu dengan pendapatan hingga Rp500 juta per tahun dapat dikecualikan jika mengajukan pernyataan yang diperlukan, dan jumlah yang dipotong dapat dikreditkan terhadap PPh tahunan atau final mereka.
Inovasi Produk dan Kemitraan Strategis
DANA dan Igloo Luncurkan Asuransi Hujan Parametrik
Igloo, perusahaan insurtech yang berbasis di Singapura, bersama dengan dompet digital DANA dari Indonesia, memperkenalkan DANA Rain Protection. Produk asuransi cuaca parametrik ini terintegrasi dalam alur pembayaran QRIS DANA, memberikan pembayaran sebesar 50.000 rupiah (sekitar US$2,8) kepada pengguna jika curah hujan di lokasi mereka mencapai 2,5 mm atau lebih selama periode pertanggungan. Dengan harga 500 rupiah (US$0.028) per polis, klaim divalidasi secara otomatis menggunakan data curah hujan satelit dan koordinat GPS, tanpa memerlukan dokumen atau tinjauan manual. Igloo melaporkan pendapatan FY2025 sebesar S$80,9 juta (naik 45,9%) dan kerugian bersih yang menyempit menjadi S$8,6 juta, dengan target mencapai adjusted EBITDA breakeven pada akhir 2026.
Vidio dan Disney+ Hadirkan Paket Bundel Premium
Disney+ dan platform Indonesia Vidio meluncurkan Vidio Ultimate Disney+ All Screen Bundle, yang ditawarkan seharga Rp129.000 per bulan untuk paket tahunan. Bundel ini menggabungkan hak siar olahraga Vidio (termasuk Liga Primer Inggris, Liga Champions UEFA, dan BRI Liga 1) dengan katalog Disney+ yang berisi konten Marvel, Star Wars, serta judul-judul internasional dan Korea. Paket ini menargetkan rumah tangga premium dan bertujuan untuk meningkatkan retensi pelanggan selama jeda musim sepak bola. Vidio saat ini memimpin pasar Indonesia dengan lebih dari 6 juta pelanggan berbayar dan telah mencatat EBITDA positif sejak akhir 2025, sementara Disney+ beralih dari distribusi sebelumnya melalui Telkomsel untuk bermitra dengan pemimpin pasar lokal.
PSA International dan Granite Asia Bentuk Dana Inovasi US$50 Juta
Operator pelabuhan yang berbasis di Singapura, PSA International, dan firma modal swasta yang berfokus di Asia, Granite Asia, telah membentuk G&P Strategic Innovation Fund senilai US$50 juta. Dana ini akan berinvestasi pada perusahaan teknologi yang mengembangkan solusi untuk pelabuhan, logistik, dan rantai pasokan global. Dana tersebut akan berinvestasi bersama dengan kendaraan investasi Granite Asia yang sudah ada, dengan tujuan membantu teknologi AI, robotika, dan otomatisasi yang menjanjikan beralih dari proyek percontohan ke adopsi komersial yang lebih luas. Kemitraan yang lebih luas juga mencakup wawasan teknologi, keterlibatan venture, pengembangan talenta, dan kolaborasi inovasi.
Laporan Global Innovation Index 2026: Kesenjangan Inovasi Indonesia
Laporan Global Innovation Index 2026 dari WIPO, yang mengevaluasi 139 ekonomi, menempatkan Swiss di posisi teratas untuk tahun ke-16 berturut-turut, diikuti oleh Swedia dan Amerika Serikat. Lima ekonomi Asia kini berada di 25 besar, dipimpin oleh Korea Selatan (ke-4) dan Singapura (ke-5), dengan Tiongkok (ke-10) menjadi satu-satunya ekonomi berpendapatan menengah di antara para pemimpin inovasi.
Indonesia menempati peringkat ke-55 secara keseluruhan, mempertahankan posisi ini selama tiga tahun berturut-turut, dan berada di peringkat ke-7 di antara 35 ekonomi berpendapatan menengah ke atas di dunia. WIPO kembali menggolongkan Indonesia sebagai salah satu dari tujuh ekonomi berpendapatan menengah yang paling cepat naik sejak 2013, bersama Tiongkok, India, Vietnam, Turki, Filipina, dan Maroko. Tahun 2026 menandai tahun kelima berturut-turut Indonesia sebagai innovation overperformer, yang menghasilkan inovasi lebih dari yang diprediksi oleh tingkat pendapatannya. Di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dari Singapura (ke-5), Malaysia (ke-34), Vietnam (ke-43), Thailand (ke-44), dan Filipina (ke-52).
Kekuatan Indonesia dalam peringkat ini didorong oleh skala pasar dan ketersediaan modal. Indonesia menempati peringkat ke-7 secara global untuk skala pasar domestik, ke-12 untuk pendanaan startup dan scaleup, serta ke-26 untuk jumlah kesepakatan modal ventura tahap akhir. Tingkat ini digambarkan WIPO sebanding dengan ekonomi berpendapatan tinggi. Indikator baru laporan ini, greenfield R&D dan FDI teknologi tinggi, yang dibangun bersama FT Locations, juga menandai Indonesia sebagai “magnet investasi”: perusahaan mengumumkan 59 proyek R&D dan teknologi tinggi masuk ke Indonesia pada tahun 2025, berbanding hanya satu proyek keluar.
Namun, kendala utama terletak pada basis penelitian. Pengeluaran R&D hanya sebesar 0,3 persen dari PDB (2020, angka terbaru yang tersedia), R&D yang dilakukan oleh bisnis sebesar 0,02 persen, dan hanya 4,4 persen peneliti yang bekerja di sektor swasta. WIPO memperingatkan bahwa negara-negara berpendapatan menengah yang naik peringkat akan mencapai “langit-langit kaca” di luar 40 hingga 50 besar tanpa kapasitas penelitian yang lebih dalam dan hubungan yang lebih kuat antara universitas-industri-startup. Bagi para pendiri startup, kesimpulannya jelas: akses ke modal bukan lagi kendala utama di Indonesia; produk yang kuat dan didorong oleh penelitian adalah kuncinya.
Konten artikel belum tersedia.

