B2B INDO · BUSINESS BRIEF

Konteks bisnis untuk keputusan yang lebih baik.

B2B Indo · Business Brief

IHSG Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Pengamat Sarankan Selektif

IHSG melemah 2,20% akibat sentimen global dan domestik. Pengamat Elandry Pratama jelaskan pemicu seperti rupiah dan US Treasury, serta berikan rekomendasi inves

Visual artikel ditampilkan jika featured image tersedia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pelemahan signifikan pada Kamis, 2,20 persen ke level 5.812,50. Penurunan ini, menurut Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama, merupakan dampak dari perpaduan sentimen eksternal dan domestik yang menekan pasar.

Kinerja Pasar dan Sentimen Pemicu

Pada perdagangan Kamis pukul 14.00 WIB, IHSG tercatat melemah 130,52 poin atau 2,20 persen, mencapai posisi 5.812,50. Sementara itu, indeks 45 saham unggulan atau LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 10,80 poin atau 1,82 persen, berada di level 583,79.

Elandry Pratama menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG dipicu oleh beberapa faktor utama. Di antaranya adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury yield), serta potensi arus dana keluar (capital outflow) dari investor asing. Kombinasi sentimen ini secara kolektif telah mengurangi selera risiko (risk appetite) investor global terhadap aset-aset berisiko, termasuk instrumen saham.

Aksi Jual Investor Asing dan Rekomendasi Investasi

Kecenderungan investor untuk menarik diri dari aset berisiko tercermin dari aksi jual bersih (net sell) yang dilakukan oleh investor asing. Hingga penutupan sesi I perdagangan Kamis, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp182,94 miliar. Elandry menyarankan untuk mengamati pergerakan net sell asing dan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang paling membebani indeks guna mengidentifikasi pemicu utama pelemahan.

Meskipun pasar mengalami koreksi, Elandry melihat saham-saham bank berkapitalisasi besar (big caps banks) masih menarik untuk dikoleksi, terutama ketika valuasinya menjadi lebih atraktif akibat koreksi. Namun, ia menekankan pentingnya bagi investor untuk tetap selektif dan tidak terburu-buru melakukan akumulasi. Disarankan agar investor menunggu hingga tekanan jual mereda dan volatilitas pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi sebelum mengambil keputusan investasi.

Data Perdagangan dan Sektor Terdampak

Data perdagangan pada Kamis pukul 14.00 WIB menunjukkan frekuensi transaksi saham mencapai 1,41 juta kali, dengan total 20,02 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp8,81 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 77 saham menguat, 649 saham melemah, dan 237 saham tidak mengalami perubahan nilai.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor mengalami pelemahan. Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,77 persen. Disusul oleh sektor barang baku yang turun 3,15 persen, dan sektor industri yang melemah 3,18 persen.

Konten artikel belum tersedia.