Harga minyak dunia mengalami penurunan pada Senin (21/9) seiring dengan sinyal pemulihan ekspor minyak dari Arab Saudi.
Jenis Brent tercatat turun 81 sen atau 0,78 persen, mencapai US$103,06 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 89 sen atau 0,89 persen, menjadi US$99,41 per barel.
Pemulihan Ekspor Minyak Arab Saudi
Data awal dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi meningkat menjadi sedikit di atas 4 juta barel per hari (bph) pada September. Angka ini merupakan kenaikan signifikan dari 2,4 juta bph pada Agustus, yang merupakan level terendah sejak setidaknya tahun 2013.
Analis JPMorgan, dalam laporannya pada 18 September, menyatakan bahwa aliran minyak dari Timur Tengah tetap kuat meskipun terjadi gangguan pada jalur pipa minyak Arab Saudi. “Perubahan paling mencolok terjadi di Arab Saudi,” ujar analis tersebut. Dalam sepuluh hari terakhir, total aliran minyak rata-rata mencapai 17,1 juta bph, meskipun angka ini 6,1 juta bph lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun 2025.
Data satelit juga mengindikasikan peningkatan pengiriman minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz, dengan rata-rata 2,9 juta bph dalam enam hari terakhir, naik dari 700 ribu bph pada Agustus.
Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
Penurunan harga minyak terjadi di tengah berlanjutnya serangan kelompok Houthi di Timur Tengah. Kelompok yang didukung Iran ini mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi di Riyadh menggunakan rudal dan drone pada Sabtu (19/9).
Houthi juga menyatakan telah menargetkan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama Arab Saudi. Sebelumnya, serangan terhadap pipa minyak East-West milik Saudi Aramco telah menyebabkan perusahaan mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pada September dan Oktober, serta menghentikan sebagian pengiriman dari Yanbu.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan ini masih memanas. China telah meminta Iran untuk membantu menekan kelompok Houthi setelah Arab Saudi meminta bantuan Beijing. Selain itu, Iran dan Amerika Serikat kembali saling melontarkan ancaman pada Minggu (20/9). Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan akan berada di New York pekan ini untuk Sidang Umum PBB.
Konten artikel belum tersedia.

