Ketegangan meningkat di seluruh Prancis seiring dengan meluasnya demonstrasi menentang tingginya biaya hidup dan harga bahan bakar. Aparat kepolisian telah dikerahkan untuk menghadapi para pengunjuk rasa yang terlibat bentrokan, termasuk di Marseille, pada Sabtu (17/10/2026).
Asal Mula dan Eskalasi Protes
Gelombang ketidakpuasan ini bermula bulan lalu dari sejumlah sekolah menengah atas di wilayah pinggiran utara Paris yang kurang mampu. Awalnya dipicu oleh kemarahan atas seringnya guru absen dan fasilitas sekolah yang tidak memadai, gerakan ini dengan cepat berkembang menjadi protes nasional. Tuntutan kini meluas menentang ketimpangan sosial, minimnya belanja publik, serta penurunan standar hidup secara umum.
Cakupan dan Karakteristik Demonstrasi
Ratusan aksi protes telah direncanakan di berbagai penjuru Prancis, dengan puluhan ribu orang diperkirakan akan berpartisipasi. Dalam beberapa insiden, polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata untuk membubarkan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang berunjuk rasa. Demonstrasi ini merupakan kelanjutan dari aksi-aksi sebelumnya yang telah mendapatkan dukungan luas dari guru, orang tua, dan anggota masyarakat sipil. Beberapa pengunjuk rasa juga menyuarakan kekhawatiran serupa dengan gerakan “Rompi Kuning” (Yellow Vests) pada tahun 2019, yang kala itu rutin menggelar pertemuan mingguan menentang kebijakan pemerintah.
Tanggapan Pemerintah dan Keterbatasan Fiskal
Pemerintah Prancis telah menyatakan komitmennya untuk menanggapi keluhan para pengunjuk rasa. Namun, di tengah tekanan keuangan publik yang signifikan dan biaya pinjaman yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah menghadapi pilihan yang terbatas untuk berinvestasi dalam layanan publik, meskipun ada desakan kuat dari masyarakat.
Konten artikel belum tersedia.

