B2B INDO · BUSINESS BRIEF

Konteks bisnis untuk keputusan yang lebih baik.

B2B Indo · Business Brief

Suahasil Nazara Tekankan Efisiensi Belanja Negara, Target Rp 1.300 Triliun di Kuartal IV

Menkeu Suahasil Nazara dorong efisiensi belanja negara dan targetkan Rp 1.300 triliun di Q4 2026. Defisit APBN per September 2026 capai Rp 319 triliun.

Visual artikel ditampilkan jika featured image tersedia.

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menggarisbawahi pentingnya efisiensi dalam belanja negara, dengan tujuan agar alokasi anggaran dapat lebih tepat sasaran. Pemerintah menargetkan belanja negara mencapai Rp 1.300 triliun pada kuartal IV-2026.

Suahasil menyampaikan laporan mengenai kondisi keuangan negara kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang meninjau alokasi anggaran, termasuk upaya efisiensi. Namun, efisiensi anggaran ini tidak semata-mata berarti pemotongan alokasi dana.

“Efisiensi anggaran tidak berarti menghentikan alokasi. Untuk kuartal keempat tahun ini, APBN akan membelanjakan Rp 1.300 triliun, angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal keempat tahun 2025 yang sebesar Rp 1.200 triliun,” ujar Suahasil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (19/10/2026).

Belanja APBN yang lebih tinggi dari periode sebelumnya ini diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat, termasuk melalui belanja perlindungan sosial. Bantuan pangan, misalnya, telah mulai disalurkan untuk kuartal keempat, yang akan mendorong konsumsi dan pengeluaran pemerintah dalam ekonomi.

Suahasil juga menegaskan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia tetap kuat dan stabil. “Transaksi di masyarakat juga masih sangat tangguh. Kami akan terus menjaga stabilitas ke depan dan mendorong pertumbuhan,” tambahnya.

Defisit APBN Capai Rp 319 Triliun per September 2026

Sebelumnya, Suahasil Nazara juga mengungkapkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah mencapai Rp 319 triliun hingga akhir September 2026. Angka ini, menurutnya, masih sesuai dengan perhitungan dan perencanaan negara.

Defisit sebesar Rp 319 triliun tersebut setara dengan 1,24% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Suahasil menjelaskan bahwa APBN memang dirancang untuk defisit sejak awal. “APBN kita didesain agar belanja negara bisa lebih tinggi dari pendapatan yang kita kumpulkan dari masyarakat,” jelasnya di Hotel Raffles, Jakarta, pada Kamis (8/10/2026).

Pada periode yang sama, pemerintah telah mengumpulkan pendapatan negara senilai Rp 2.341,5 triliun, atau sekitar 74,5% dari target APBN 2026. Angka ini dinilai masih sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp 2.660,5 triliun, mencapai 69% dari target. Suahasil menyebut realisasi ini “relatif sesuai jalur” dan memperkirakan akan ada percepatan belanja, terutama pada bulan November dan Desember. “Hampir 70% belanja dalam tiga per empat tahun ini menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang benar,” imbuhnya.

Suahasil menekankan komitmen pemerintah untuk menjaga kinerja APBN agar tetap kredibel dan berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa defisit APBN diperlukan untuk memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. “Angka-angkanya kita jaga agar dapat dipercaya bahwa APBN ini mengumpulkan uang dari rakyat, namun juga belanjanya kembali lagi kepada masyarakat Indonesia. Menuju tahun depan, kita melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” pungkasnya.

Konten artikel belum tersedia.