B2B INDO · BUSINESS BRIEF

Konteks bisnis untuk keputusan yang lebih baik.

B2B Indo · Business Brief

Perang Lawan Iran Telan APBN AS Rp803 Triliun, Inflasi Diprediksi Naik

Pentagon melaporkan biaya perang melawan Iran mencapai Rp803 triliun, belum termasuk perbaikan. CBO prediksi inflasi AS naik di Q1 2027.

Visual artikel ditampilkan jika featured image tersedia.

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa potensi konflik militer melawan Iran telah menghabiskan anggaran sebesar US$45,1 miliar, atau sekitar Rp803 triliun, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS. Perhitungan ini didasarkan pada asumsi kurs Rp17.813 per dolar AS.

Rincian Biaya Pertahanan

Laporan mengenai pengeluaran ini disampaikan oleh Pentagon kepada Kongres pada Jumat (18/9) lalu. Dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengonfirmasi informasi ini kepada AFP.

Menurut laporan tersebut, biaya perang mencapai US$43,6 miliar (sekitar Rp776 triliun) per tanggal 3 September. Angka ini kemudian ditambah dengan US$1,5 miliar (sekitar Rp26,8 triliun) untuk kebutuhan bahan bakar tambahan. Namun, perlu dicatat bahwa jumlah ini belum mencakup seluruh aspek biaya perang.

Batasan Perhitungan dan Perkiraan Lain

Salah satu sumber AFP menjelaskan bahwa estimasi biaya tersebut belum memasukkan perkiraan pengeluaran untuk perbaikan pangkalan atau fasilitas yang mengalami kerusakan. Selain itu, Pentagon juga belum merinci biaya tidak langsung yang timbul dari operasi militer, meskipun anggota parlemen telah meminta informasi tersebut.

Angka US$45,1 miliar yang dilaporkan Pentagon ini melampaui proyeksi sebelumnya dari Congressional Budget Office (CBO), yang memperkirakan biaya perang hingga 1 Agustus mencapai US$38 miliar (setara Rp677 triliun). Sebelumnya pada bulan Juli, Pentagon sendiri memperkirakan biaya perang sebesar US$37,5 miliar (sekitar Rp667 triliun).

Perkiraan CBO juga tidak memasukkan biaya perbaikan fasilitas AS yang rusak selama konflik. Sebagian besar pengeluaran yang dihitung berasal dari pembelian amunisi.

Proyeksi Jangka Panjang dan Dampak Ekonomi

CBO memproyeksikan bahwa konflik ini akan terus membebani AS sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar setiap bulannya setelah tanggal 1 Agustus. Biaya ini diperkirakan akan meningkat lebih tinggi jika intensitas pertempuran meningkat.

Lebih lanjut, CBO juga menyampaikan kepada Kongres bahwa perang tersebut diperkirakan akan memicu kenaikan inflasi di AS pada kuartal pertama tahun 2027. Kondisi ini akan terjadi di tengah kekhawatiran masyarakat AS terhadap kondisi perekonomian dan peningkatan biaya hidup.

Konten artikel belum tersedia.