01Fintech, lengan investasi fintech tahap pertumbuhan dari 01F Group, telah menanamkan modal pada platform keuangan digital terkemuka Indonesia, DANA. Sementara itu, pemerintah Indonesia berencana mewajibkan marketplace untuk memungut Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 dari penjual domestik. Di sisi lain, laporan terbaru menyoroti bahwa ekonomi hijau Asia Tenggara mencapai US$290 miliar pada tahun 2025, namun menghadapi tantangan signifikan dalam konversi modal.
Perkembangan Penting di Ekosistem Startup Indonesia
Investasi 01Fintech di DANA
01Fintech, yang merupakan bagian dari 01F Group, mengumumkan investasinya di DANA, platform keuangan digital Indonesia. Kemitraan ini bertujuan untuk mendukung ekspansi DANA dalam layanan pembayaran dan keuangan. Fokus utama investasi ini meliputi penguatan platform DANA, perluasan akses kredit dan modal kerja bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengembangan layanan seperti asuransi mikro dan tabungan digital, serta penjajakan solusi pembayaran lintas batas yang lebih efisien bagi pengguna dan pedagang di Indonesia.
Pajak Marketplace: Aturan Baru dari Pemerintah
Direktorat Jenderal Pajak Indonesia berencana untuk mewajibkan marketplace tertentu memungut Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 dari penjual domestik. Mekanisme ini, yang diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 37/2025, dijadwalkan berlaku mulai 1 November 2026, dengan mempertimbangkan kesiapan masing-masing platform. Pada tahap awal, platform seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli akan terlibat, mengalihkan tanggung jawab pemungutan pajak dari penjual individu ke platform.
Zankore Amankan Pendanaan Infrastruktur AI
Zankore, sebuah platform AI yang berfokus di Indonesia, telah menandatangani fasilitas pinjaman senior hingga US$3,1 miliar. Dana ini akan digunakan untuk membiayai penyebaran awal infrastruktur GPU NVIDIA 100 MW untuk layanan cloud AI di Indonesia dan Asia Tenggara. Perusahaan menargetkan untuk mencapai sekitar 200 MW pada paruh pertama tahun 2027 dan pada akhirnya mengembangkan kapasitas NVIDIA DSX AI Factory sebesar 1 GW. Sindikasi pemberi pinjaman dipimpin oleh Citi, ING, Natixis CIB, Qatar National Bank, dan UOB.
Green SM Hadirkan Ojek Motor Listrik di Jakarta
Perusahaan mobilitas asal Vietnam, Green SM, telah meluncurkan layanan ojek motor listriknya di Jakarta. Kehadiran layanan ini menambah persaingan bagi penyedia layanan ride-hailing yang sudah ada seperti Gojek, Grab, Maxim, dan inDrive. Layanan Green SM didukung oleh jaringan pengisian daya dan penukaran baterai yang sedang dikembangkan oleh perusahaan. Sebelumnya, Green SM telah mengoperasikan taksi listrik di Jakarta dan berekspansi ke beberapa kota di Indonesia.
BSA Logistics Raih Pembiayaan Kapal
BSA Logistics, salah satu unit bisnis Waresix, melalui anak perusahaannya Beruang Maritim Indonesia, berhasil memperoleh fasilitas pinjaman berjangka 60 bulan senilai Rp75 miliar dari Bank OCBC. Pendanaan ini akan digunakan untuk mendukung pembelian kapal dan ekspansi logistik perusahaan. Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan hipotek peringkat pertama atas lima kapal tunda dan lima tongkang, serta jaminan perusahaan dari pemegang saham pengendali Tiga Beruang Kalifornia.
Dinamika Regional dan Implikasinya
Pembentukan Dewan Investasi Tiongkok-ASEAN
Enam lembaga dana kedaulatan dan pensiun dari Tiongkok, Asia Tenggara, dan Azerbaijan telah meluncurkan Dewan Investasi Bersama Tiongkok-ASEAN. Dewan ini, yang digagas oleh China Investment Corporation dengan CGS International sebagai sekretariat, berfungsi sebagai forum non-modal. Fokusnya adalah pada penyelarasan modal, pertukaran penelitian dan pengetahuan, serta dialog kepemimpinan. Pembentukan dewan ini dibangun di atas penutupan pertama Program Investasi Galaxy Orientis Tiongkok-ASEAN senilai US$520 juta, dengan keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing lembaga anggota.
CATL Berinvestasi di Dana Ventura
Ningbo Wending, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh CATL, berencana untuk menginvestasikan 1,12 miliar yuan, atau sekitar US$167 juta, di Xiamen Times Yiyuan Venture Capital Fund untuk kepemilikan 19,4175%. Investasi pihak terkait ini menggarisbawahi peningkatan penggunaan struktur dana oleh CATL. Langkah ini sejalan dengan rencana dana hijau mereka bersama Otoritas Investasi Indonesia dan CMBI yang menargetkan peluang di seluruh rantai nilai kendaraan listrik.
Ekonomi Hijau Asia Tenggara: Tantangan dan Peluang Baru
Laporan terbaru dari Bain & Company dan Standard Chartered, berjudul “Southeast Asia’s Green Economy 2026: The New Calculus,” memperkirakan nilai ekonomi hijau di Asia Tenggara mencapai sekitar US$290 miliar pada tahun 2025, dengan proyeksi pertumbuhan menjadi US$430 miliar pada tahun 2030, atau sekitar 8 hingga 9% per tahun. Namun, inti dari laporan ini adalah pergeseran fundamental dalam logika investasi: modal tidak lagi mengalir hanya berdasarkan ambisi iklim semata.
Di tengah fragmentasi kebijakan dan volatilitas geopolitik, investor kini mendukung proyek-proyek yang didasarkan pada keamanan energi, potensi pertumbuhan, dan pengembalian komersial yang mandiri. Para penulis laporan menyebut pendekatan ini sebagai “kalkulus baru.”
Pola Investasi dan Kesenjangan Konversi
Dari sekitar US$40 miliar belanja modal hijau yang dikerahkan setiap tahun di enam negara Asia Tenggara (SEA-6) antara tahun 2021 hingga 2025, sekitar 80% mengalir ke dua sektor utama: tenaga dan jaringan listrik (~50%, sekitar US$20 miliar) serta rantai nilai kendaraan listrik (EV) (~30%, sekitar US$11 miliar). Sektor-sektor ini menarik investasi karena memiliki permintaan yang nyata, layak kredit, dan tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan. Sementara itu, sektor-sektor yang sangat bergantung pada ekonomi pengurangan emisi, seperti pasar karbon dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, berkembang, namun dengan kecepatan yang ditentukan oleh kebijakan dan modal percontohan, bukan daya tarik komersial.
Masalah utama yang menghambat kawasan ini bukanlah ketersediaan modal, melainkan tingkat konversi. Lebih dari 35% belanja modal hijau yang diumumkan antara tahun 2021 hingga 2025 tidak pernah terealisasi, menjadikannya salah satu tingkat konversi terlemah dibandingkan pasar sejenis. Dari sekitar US$540 miliar yang diumumkan untuk sektor tenaga dan rantai nilai EV hingga tahun 2030, hanya sekitar US$315 miliar yang kemungkinan akan dikerahkan dalam kondisi pasar saat ini.
Indonesia menjadi contoh nyata kesenjangan ini: lebih dari US$14 miliar investasi baterai yang diumumkan berbanding sekitar US$5 miliar yang terealisasi. Pembatalan proyek besar seperti pabrik nikel BASF-Eramet senilai US$2,6 miliar setelah harga nikel anjlok lebih dari 70% dari puncaknya pada tahun 2022 juga menunjukkan kerentanan ini. Bain memperkirakan bahwa perbaikan kendala sistem, mulai dari akses jaringan listrik hingga pengadaan yang layak bank (DPPA) dan perizinan, dapat membuka tambahan sekitar US$80 miliar, atau peningkatan 25%.
Gelombang Permintaan dan Peluang Infrastruktur
Yang membuat jendela peluang ini mendesak adalah gelombang permintaan yang signifikan: lebih dari 100 TWh beban listrik baru pada tahun 2030. Permintaan ini berasal dari pusat data (35 hingga 45 TWh, dengan kapasitas pusat data di Asia Tenggara diperkirakan akan berlipat tiga), kawasan industri hijau (25 hingga 60 TWh, dengan 90 klaster saat ini dibandingkan 45 pada tahun 2021), dan kendaraan listrik (10 hingga 15 TWh; empat dari 15 pasar EV teratas dunia kini berada di Asia Tenggara).
Jaringan listrik menjadi hambatan utama yang umum: sekitar 90% operator pusat data yang disurvei menyebut penundaan koneksi jaringan sebagai kendala utama investasi lebih lanjut. Jika masalah ini tidak diperbaiki, pusat data dapat realokasi, produsen peralatan asli (OEM) akan membangun di tempat lain, dan klaster hijau akan terhenti.
Laporan ini mengidentifikasi peluang nyata berada pada infrastruktur dasar, atau “plumbing.” Ini mencakup teknologi jaringan, penyimpanan energi, solusi pengisian daya dan manajemen energi, serta solusi daya industri. Singkatnya, segala sesuatu yang dapat mengubah modal yang diumumkan menjadi aset yang dibangun akan melayani pembeli yang membutuhkan produk sesuai jadwal yang ketat. Waktu sangat krusial: perusahaan hyperscaler dan produsen mobil sedang mengunci keputusan platform dalam jendela 2025 hingga 2028, dan beban besar membutuhkan daya dalam waktu 24 hingga 36 bulan. Asia Tenggara saat ini masih hanya menangkap kurang dari 2% produksi EV dan baterai global, sementara sekitar 70% nilai EV bocor ke luar kawasan. Tim yang mampu menutup kesenjangan konversi, bukan hanya mengumumkan ambisi, akan menjadi penentu siklus berikutnya.
Konten artikel belum tersedia.

