Grup Djarum melalui entitas investasinya, Global Digital International, telah merampungkan akuisisi terhadap PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan di balik platform media digital Narasi. Sementara itu, Xendit menunjuk Nazim Ali sebagai Presiden untuk memimpin ekspansi regional, dan total utang paylater serta pinjaman online di Indonesia mencapai Rp150,8 triliun pada Juli 2026.
Berita Utama Sektor Startup
Djarum Group Akuisisi Narasi
Grup Djarum, melalui kendaraan investasinya Global Digital International, telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk mengakuisisi PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan yang mengoperasikan platform media digital Narasi di Indonesia. Akuisisi ini merupakan kelanjutan dari hubungan investasi Djarum dengan Narasi yang telah terjalin sejak 2018, termasuk pembiayaan utang yang kemudian dikonversi menjadi ekuitas. Meskipun demikian, nilai transaksi dan struktur kepemilikan akhir dari kesepakatan ini belum diungkapkan secara publik.
Xendit Tunjuk Nazim Ali sebagai Presiden
Xendit, perusahaan infrastruktur pembayaran yang berbasis di Jakarta, telah mempromosikan Nazim Ali sebagai Presiden. Dalam peran barunya, Ali akan mengemban tanggung jawab yang lebih luas, mencakup bidang hukum, risiko, kepatuhan, dan operasional, di samping terus memimpin aktivitas go-to-market global. Perubahan kepemimpinan ini terjadi seiring dengan upaya Xendit untuk memperluas jejaknya di Asia Tenggara dan mempersiapkan ekspansi internasional lebih lanjut. Struktur baru ini dirancang untuk menyelaraskan fungsi pertumbuhan dan kontrol perusahaan dengan lebih baik.
Utang Paylater dan Pinjaman Online Indonesia Capai Rp150,8 Triliun
Total utang konsumen yang berasal dari produk paylater bank dan perusahaan pembiayaan, ditambah dengan pinjaman online, mencapai angka Rp150,8 triliun pada Juli 2026. Secara rinci:
- Produk Buy Now, Pay Later (BNPL) dari bank tumbuh 31,22% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp31,56 triliun.
- Paylater dari perusahaan pembiayaan meningkat 54,65% menjadi Rp13,62 triliun.
- Pinjaman online mencatat pertumbuhan 24,76% menjadi Rp105,63 triliun.
Sementara itu, rasio Non-Performing Financing (NPF) bruto tercatat sebesar 3,03%, dan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) berada di angka 4,32%.
Zankore oleh Indosat Targetkan Infrastruktur AI 1 GW
Indosat, Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia telah meluncurkan Zankore, sebuah inisiatif untuk mengembangkan platform komputasi AI dan cloud di Indonesia. Proyek ini menargetkan kapasitas NVIDIA DSX AI Factory sebesar 1 GW di seluruh Asia-Pasifik. Zankore berencana untuk menggelar infrastruktur NVIDIA awal sebesar 100 MW dan mencapai sekitar 200 MW pada paruh pertama tahun 2027, memposisikan Indonesia sebagai hub regional potensial untuk AI perusahaan dan agentik.
Dinamika Keuangan Digital Regional
Grab Dilaporkan Berencana Akuisisi Saham Mayoritas Atome
Grab dilaporkan sedang dalam pembicaraan untuk mengakuisisi saham pengendali di Atome Financial, penyedia layanan buy now, pay later (BNPL) yang berbasis di Singapura. Potensi kesepakatan ini dapat menilai unit Advance Intelligence Group tersebut lebih dari US$2 miliar. Akuisisi ini akan memperkuat strategi keuangan konsumen Grab di luar penawaran PayLater yang sudah ada. Atome sendiri menunjukkan daya tarik dengan pertumbuhan pendapatan 80% menjadi US$470 juta pada tahun 2025 dan mencatat laba sebelum pajak selama dua tahun berturut-turut. Pembicaraan masih berlangsung, dan belum ada kesepakatan final yang diumumkan.
DBS dan Citi Selesaikan Pembayaran Dolar Tokenisasi Akhir Pekan
DBS dan Citi berhasil menyelesaikan pembayaran lintas batas dolar AS antara Singapura dan Amerika Serikat dalam hitungan menit selama akhir pekan. Transaksi ini menggunakan deposit tokenisasi pada Digital Ledger Swift. Pencapaian ini menyoroti bagaimana deposit digital yang diterbitkan bank dapat memungkinkan penyelesaian yang lebih cepat dan beroperasi 24 jam sehari, tanpa bergantung pada stablecoin. Swift sendiri sedang bersiap untuk memperluas program percontohan infrastrukturnya dengan melibatkan 17 bank.
Membangun Kepercayaan Digital: Melawan Penipuan
Penipuan digital di Asia Tenggara terus menjadi ancaman serius yang mengikis kepercayaan publik terhadap ekosistem digital. Laporan terbaru GSMA, ASEAN Consumer Scam Report 2026, mengungkapkan bahwa 45% kasus penipuan yang dilaporkan oleh konsumen di enam negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) tetap tidak terselesaikan. Situasi ini terjadi meskipun konsumen telah meningkatkan upaya perlindungan diri, yang pada akhirnya menyebabkan menurunnya kepercayaan terhadap saluran komunikasi, platform digital, dan praktik berbagi data.
Dampak Finansial dan Tantangan Pemulihan
Dampak finansial dari penipuan digital sangat signifikan. Sekitar 8% dari konsumen yang disurvei melaporkan menjadi korban penipuan dalam 12 bulan terakhir, dengan 68% di antaranya mengalami kerugian finansial. Namun, pemulihan dana bagi korban masih menjadi tantangan besar: 82% korban yang mengalami kerugian finansial tidak dapat memulihkan uang mereka, sementara hanya 10% yang berhasil mendapatkan kembali seluruh kerugiannya.
Kecanggihan Penipuan dengan AI
Ancaman penipuan digital semakin kompleks dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). GSMA mencatat bahwa AI memungkinkan penipu menggunakan teknik canggih seperti phishing, deepfake, kloning suara, dan pemalsuan identitas digital. Hampir sembilan dari sepuluh konsumen ASEAN yang disurvei telah mengenali setidaknya satu bentuk AI yang digunakan dalam penipuan. Aplikasi pesan kini menjadi saluran paling umum untuk penipuan, dengan 41% kasus terjadi melalui platform ini.
Peran Operator Seluler dalam Kepercayaan Digital
GSMA menekankan bahwa penguatan kepercayaan digital membutuhkan koordinasi antara pemerintah, regulator, operator seluler, lembaga keuangan, platform digital, dan pemangku kepentingan lainnya. Dalam laporannya, Digital Nations 2026, GSMA mengidentifikasi empat fondasi utama kepercayaan digital: identitas, komunikasi, jaringan yang tangguh, dan intelijen kolektif. Operator seluler dipandang memiliki peran yang diperluas dalam membangun ekosistem yang terpercaya, termasuk verifikasi identitas, keamanan jaringan, pencegahan penipuan, dan berbagi intelijen untuk mendeteksi serta mencegah penipuan lintas batas di seluruh ASEAN.
Konten artikel belum tersedia.

